Monday, June 12, 2017

Banyak Pertanyaan "Siapa Calon Gubernur NTT"


"kemenangan merupakan akhir atau pencapaian dari sebuah kontestasi". Hal ini juga yang terjadi dalam dunia politik, khususnya terkait Pilkada di NTT yang kian dekat. Waktu pendaftaran telah dibuka untuk siapa saja yang telah siap dan telah dilakukan, namun sejumlah partai politik (parpol) ada dan belum menentukan dengan pasti mengenai siapa sosok yang diusung. Saat ini sejumlah parpol masih memperhitungkan berbagai kemungkinan sebelum menentukan siapa sosok pasangan calon yang akan di dukung dan salah satunya adalah melalui survey. Jadi sebenarnya kalimat diatas sangat perlu dirubah  menjadi "Kemenangan merupakan sebuah awal untuk pencapaian cita-cita bersama rakyat NTT untuk menjadi lebih maju dan sejahtera" . Masyarakat dituntut untuk lebih cerdas didalam menilai dan mengikuti proses serta tata cara yang telah ditetapkan. Sudah pasti seluruh lapisan masyarakat akan dikunjungi untuk perkenalan dan bertatap muka. Gunakan acara-acara tersebut untuk berkomunikasi !


Kristo Blasin telah melakukan  step by step semenjak menetapkan dirinya dan memenuhi panggilan dalam pembangunan NTT kedepannya.  Pantauan Pos Kupang, Kamis (4/5/2017) sekitar pukul 09:30 wita, Kristo dan istri bersama  keluarga mendaftar di PDIP. Tim dipimpin, olehWili Paga. Hadir pula, sejumlah simpatisan.

"Semua kandidat memiliki pengalaman dan kemampuan lebih dari saya, maka NTT patut bersyukur memiliki banyak kandidat yang peduli akan NTT kedepannya, tentu saya dan kandidat lainnya akan mempertaruhkan apa yang ada untuk membangun NTT." (Kristo Blasin)
 Yuk belajar Politik !



UNDANG-UNDANGREPUBLIK INDONESIA
NOMOR 10 TAHUN 2016
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG -UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG -UNDANG

Klik disini ! Yuk Ketahui bersama untuk kita semua. Salam Dari Sahabat


Kirimkan Saran anda  Untuk NTT melalui Email Kristo Blasin......marselinasintasayang@yahoo.com.........


Suara Hati Dari Sumba



Masyarakat Propinsi NTT menantikan kedatangan Kristo Blasin sebagai pemimpin baru untuk terus membawa perubahan. Kristo Blasin hadir dengan kesederhanaannya, bersih dan jujur. Kristo pernah menjadi anggota DPRD NTT 15 tahun memiliki banyak inisiatif dan proaktif tentunya merupakan tuntutan masa kini dan masa depan yang penuh persaingan Kristo memiliki kualitas, integritas yang sangat handal dan menjadi pelindung, mampu mengayomi, dan melayani masyarakat NTT. Dan inilah harapan kami seluruh masyarakat NTT. Kedatangan Kristo Blasin di Sumba atau di NTT adalah jawaban dan harapan baru......Salam Sahabat Kristo ( terima kasih Umbu Ana Bawo)


 Kirimkan Saran anda  Untuk NTT melalui Email Kristo Blasin......marselinasintasayang@yahoo.com.........

Survey Calon Gubernur Pada Partai Di Nusa Tenggara Timur


Yuk Belajar Politik !
PDIP dan partai -partai lainnya sebelum menetapkan kandidat mereka maka akan melakukan survei untuk mencari kandidat calon gubernur dan wakil gubernur di NTT yang memiliki tingkat keterpilihan besar atau dengan kata lain tokoh yang dikenal dan elektabilitasnya tinggi untuk menjadi gubernur. Survei dilakukan di semua  kabupaten di Nuisa Tenggara Timur. Nah sekarang survei sedang berlangsung dan disinilah kesempatan kita semua untuk menentukan dan membuka mata kita lebar-lebar terhadap semua kandidat yang telah mendaftarkan diri pada sebuah partai.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan (DPD PDIP), Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya  menjelaskan bahwa DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT akan tetap menggunakan mekanisme survei dalam menetapkan pasangan calon (Paslon) pemilu kepala daerah (Pilkada) 2018, baik pilgub maupun pilbup 10 kabupaten yang digelar serentak. Selain itu, PDIP juga harus berkoalisi dengan partai lain, baik pilgub maupun 10 kabupaten yang menggelar pilkada serentak, karena perolehan kursi di DPRD tidak memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri. Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Politik dan Pemenangan Pemilu DPD PDIP NTT, Yunus Takandewa menjelaskan Surat Keputusan (SK) DPP PDIP tentang penjaringan dan penyaringan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah, survei merupakan sebuah kewajiban yang mesti dilaksanakan. Survei dilakukan setelah semua bakal calon, kader maupun non kader mendaftarkan diri di sekretariat partai pada masa pendaftaran (http://sinarharapan.net).


ELEKTABILITAS DAN POPULARITAS. Istilah-istilah ini yang sering dipergunakan dalam pemilihan umum dan tentunya banyak dari kita semua yang masih sulit mengartikannya. Kalau kita semua tidak tahu makna ini maka untuk apa ada survey? namun sebuah pertanyaan yang perlu kita kemukakan adalah apa yang menjadi tujuan dari survey ini? Survey bukan menilai kandidat sekedar untuk popularitasnya yang sering tampil, atau survey ini untuk meningkatkan elektabilitas. Bahkan dalam masyarakat, sering diartikan, bahwa orang yang memiliki popularitas dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Belum tentu. 

Namun sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Jadi penentu suatu pilihan, apakah popularitas atau elektabilitas? Samakah pengertian popularitas dan elektabilitas itu? Apakah sebenarnya elektabilitas itu? Apa bedanya dengan popularitas?
Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik dan memiliki performa terhadap sebuah karya secara luas dalam masyarakat. Namun ada kalanya seseorang yang baik dan bersih, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan untuk publik, akan tetapi karena tidak ada yang memperkenalkannya di masyarakat menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat. 
BEDA PENGERTIAN ELEKTABILITAS DAN POPULARITAS
Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan. Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai. Elektabilitas sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Elektabilitas partai politik berarti tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti partai tersebut memiliki daya pilih yang tinggi. Untuk meningkatkan elektabilitas maka objek elektabilitas harus memenuhi kriteria keterpilihan dan juga populer.
Sedangkan popularitas adalah tingkat keterkenalan di mata public. Meskipun populer belum tentu layak dipilih. Sebaliknya meskipun punya elektabilitas sehingga layak dipilih tapi karena tidak diketahui public, maka rakyat tidak memilih. Untuk meningkatkan elektabilitas maka sangat tergantung pada teknik perkenalan yang dipergunakan. Dalam masyarakat yang belum berkembang, kecocokan profesi tidak menjadi persoalan. Yang perlu diingat, tidak semua perkenalan berhasil meningkatkan elektabilitas. Ada perkenalan yang menyentuh, ada perkenalan yang tidak menyentuh kepentingan rakyat. Sementara itu ada perkenalan yang berkedok sebagai survei, dengan tujuan untuk mempengaruhi orang yang sulit membuat keputusan dan sekaligus mematahkan semangat. 
Lantas bagaimana sahabatku setelah membaca perihal popularitas dan elektabilitas ini? Apakah penentu suatu pilihan dalam pemilu, pilkada atau pilpres itu sekedar berdasarkan popularitas, elektabiliatas, atau keduanya? 
Mari kita ambil contoh pemilihan sebuah produk. Jika ada beberap pilihan produk yang sama, maka apa dasar kita untuk memilih produk yang terbaik? Di antara beberapa produk, kemudian hanya satu dua produk yang memiliki tingkat keterpilihan (elektabilitas) tinggi. Bila melihat popularitas, semua produk sepeda motor yang ada di Indonesia itu popular. Kata elektabilitas sering dikaitkan dengan sosok yang akan dipilih atau nama partai peserta pemilu. Tidak pernah ada elektabilitas itu dikaitkan dengan produk sepeda motor, padahal pada prakteknya elektabilitas produk sepeda motor itu yang menentukan dipilih atau tidaknya oleh pembeli.
Bagaimana bila dikaitkan dengan Pemilu, Pilkada atau Pilpres di Indoensia, apakah penentu pilihannya itu popularitas atau elektabilitas? Menjelang pemilihan umum (pemilu) yang makin dekat, partai-partai politik dan tokoh-tokoh yang berminat untuk maju dalam pemilu itu, sudah mulai bersiap-siap. Alasannya, istilah-istilah yang dipergunakan banyak yang masih sulit dicerna rakyat biasa. Kalau rakyat tidak tahu apa yang dikatakan dan apa itu politik, maka survey ini menjadi momentum yang sangat penting
Pertanyaan yang perlu kita kemukakan, bagaimana anda berkontribusi dalam survey ini? Istilah popularitas dan elektabilitas dalam masyarakat memang sering disamaartikan. Padahal keduanya mempunyai makna dan konotasi yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kedekatan dan korelasi yang besar.
Dalam masyarakat, sering diartikan, orang yang populer dianggap mempunyai elektabilitas yang tinggi. Sebaliknya, seorang yang mempunyai elektabilitas tinggi adalah orang yang populer. Popularitas dan elektabilitas tidak selalu berjalan seiring. Orang yang memiliki elektabilitas tinggi adalah orang yang dikenal baik secara meluas dalam masyarakat. Ada orang baik, yang memiliki kinerja tinggi dalam bidang yang ada hubungannya dengan jabatan publik yang ingin dicapai, tapi karena tidak ada yang memperkenalkan menjadi tidak elektabel. Sebaliknya, orang yang berprestasi tinggi dalam bidang yang tidak ada hubungannya dengan jabatan publik, boleh jadi mempunyai elektabilitas tinggi karena ada yang mempopulerkannya secara tepat.
Demikian beda pengertian elektabilitas dan popularitas semoga menambah wawasan kita bersama.

(dari http://obrolanpolitik.blogspot.co.id)


Salam hangat dari "Kristo Blasin" dan para sahabat. Atas dukungan yang baik kami haturkan limpah terima kasih dan semoga apa yang kita cita-citakan untuk NTT dapat kita wujudkan.  

 Kirimkan Saran anda  Untuk NTT melalui Email Kristo Blasin......marselinasintasayang@yahoo.com.........

Tuesday, April 25, 2017

Yuk Becanda (Tertawa menambah umurmu 1 hari)


Kristo Blasin (Salah satu Calon Gubernur NTT)


Tertawa menambah umurmu satu hari, melihat-lihat di facebook banyak artikel-artikel lucu tapi memiliki makna yang baik........Salah satu foto edit diambil dari account facebook Selfiana laga Rae sangat baik untuk dishare dan membuat saya tertawa terbahak-bahak....terima kasih telah menambah umur saya.....



Kirimkan Saran anda  Untuk NTT melalui Email Kristo Blasin......marselinasintasayang@yahoo.com.........

Share Post : DUNIA PENDIDIKAN YANG BERMORAL



Kristo Blasin (Salah Satu Calon Gubernur NTT)

DUNIA PENDIDIKAN YANG BERMORAL

Sebagai Generasi Muda atau generasi penerus bangsa maka menjadi suatu yang memperihatinkan tatkala melihat keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Flobamora saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di bumi Flobamora ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang signifikan untuk sebuah terobosan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan baik Pendidikan nasional maupun Pendidikan informal selama ini telah mengesampingkan unsur pendidikan moral. Seharusnya pendidikan kita baik dilakukan dirumah atau di tingkat sekolah formal mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini banyak Pejabat atau pemimpin -pemimpin yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif dan semuanya orang-orang yang berpendidikan tinggi, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. disegala usia. Contoh lainnya, dalam aktifitas lainnya yang lebih parah lagi, ada anggota dewan atau tenaga ahli terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja seperti ini).

Kejadian-kejadian seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa Bumi Flobamora ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda lainnya saat ini untuk masa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, menjiplak skripsi atau tesis, praktek suap untuk jadi pegawai negeri atau suap untuk naik pangkat, atau praktek mengganti posisi jabatan pegawai kalau tidak ikut memenangkan calon kepala daerah.
Di pendidikan tingkat menengah atas, setiap awal tahun ajaran baru, para orang tua murid memiliki perilaku mengatur anaknya untuk berusaha mencarikan anaknya sekolah favorit (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Kembali ke pendidikan yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai Perguruan Tinggi menjadi pintar dan bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa anak didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau daerah setelah menyelesaikan pendidikannya, tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun daerah ini untuk bangsa dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu daerah ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lainnya tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.

Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada anak didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai Perguruan Tinggi maka setiap pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh anak didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai Perguruan Tinggi memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.

Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di NTT dan Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi unggul seperti diatas.

PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU
Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda mulai saat ini.

Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (para pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.

Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?

Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan, para orang tua, para pejabat, para profesional di NTT dan Indonesia secara umum harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.



Sumber : http://nadhirin.blogspot.co.id


Monday, April 24, 2017

Yuk belajar Politik (bagian 3)


Kristo Blasin : Salah Satu Calon Gubernur NTT

Kali ini kita membahas peran Gubernur sesuai undang-undang No. 23 tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah. Semoga bermanfaat untuk kita ketahui bersama. Yuk Belajar Politik Dan Ketatanegaraan !